Home / Nasional / Komisioner KPAI Baru Temui Satu Kasus Dugaan Kekerasan Seksual oleh Guru Perempuan Sejak 2017

Komisioner KPAI Baru Temui Satu Kasus Dugaan Kekerasan Seksual oleh Guru Perempuan Sejak 2017

Kasus oknum guru perempuan di Bali yang mengajak siswinya threesome ternyata cukup langka bagi Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang pendidikan, Retno Listyarti. Retno mengatakan sejak dirinya menjadi komisioner pada tahun 2017 silam, baru kali ini menemui kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh guru perempuan. "Selama menjadi Komisioner KPAI sejak 2017, baru kali ini saya menemui kasus dugaan kekerasan seksual oknum guru terhadap siswa dilakukan oleh guru perempuan," ujar Retno, dalam keterangannya, Jumat (8/11/2019).

Ia menjelaskan pelaku kasus kekerasan seksual terhadap siswa biasanya dilakukan oleh guru atau kepala sekolah laki laki dengan korban siswa perempuan maupun laki laki. KPAI, kata dia, mengaku prihatin atas kasus ini. Apalagi korban disebutnya diiming imingi sesuatu, yakni pulsa dan baju baru. Untuk saat ini, KPAI telah berkoordinasi dengan mitra di Bali yaitu KPPPAD Bali untuk mendampingi korban.

"Berdasarkan penjelasan yang kami terima, anak korban sudah mendapatkan layanan psikologis dan pendampingan dari P2TP2A Bali. Hasil pengawasan KPPPAD Bali nanti akan disampaikan juga ke publik," kata dia. Sebelumnya diberitakan, seorang guru honorer di salah satu SMK Buleleng bernama Ni Made Sri Novi Darmaningsih (29) diciduk polisi bersama pegawai kontrak di Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM (BKPSDM) Buleleng bernama Anak Agung Putu Wartayasa (36). Darmaningsih merupakan selingkuhan dari Wartayasa. Mereka diciduk polisi karena mengajak salah seorang siswi di SMK tempat Darmaningsih bekerja, untuk threesome (melakukan hubungan seks bertiga). Siswi tersebut berinisial V (16).

Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP Vicky Tri Haryanto ditemui Kamis (7/11/2019) sore mengatakan, kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur ini terjadi pada 26 Oktober lalu, dan baru dilaporkan oleh orang tua V pada Rabu (6/11/2019). Berangkat dari laporan itu, polisi pun langsung menciduk Wartayasa di kediamannya yang terletak di Jalan Kutilang, Singaraja. Disusul dengan penangkapan terhadap Darmaningsih, warga asal Kelurahan Banyuning, Kecamatan/Kabupaten Buleleng.

Kata AKP Vicky, korban V mulanya diminta oleh pelaku Darmaningsih untuk menemani dirinya pergi ke rumah indekos milik Wartayasa yang terletak di Jalan Sahadewa, Singaraja. Di indekos itu, Wartayasa yang merupakan pegawai kontrak di BKPSDM nyatanya telah menunggu. Setibanya di indekos, kedua pasangan ini mulai melakukan perbuatan tak senonoh di hadapan V. Hingga akhirnya V dipaksa untuk ikut bergabung melakukan hubungan seksual.

"Pelaku laki laki (Wartayasa) yang meminta kepada pelaku perempuan (Darmaningsih) untuk dicarikan perempuan yang mau diajak berhubungan seks bertiga. Kemudian pelaku perempuan menyanggupi dan dicarikan salah satu siswa di sekolah yang dia ajar," jelasnya. Akibat perbuatannya, untuk tersangka Darmangingsih dijerat dengan Pasal 81 ayat (1) Jo pasal 82 ayat (2) Undang Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Sedangkan untuk pelaku Wartayasa disangka telah melakukan tindak pidana Persetubuhan sebagaimana dimaksud dalam rumusan pasal 81 ayat (1), (2) UU Nomor 35 tahun 2014 dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara, serta denda paling banyak Rp 5 miliar.

About Admin

Avatar
Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup.

Check Also

Taruhannya Sangat Mahal Desak Pembelajaran Tatap Muka Dihentikan Legislator PKS

Klaster baru yang muncul akibat dibukanya pembelajaran tatap muka bagi sekolah di zona hijau dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *